by

6 Aspek Pendukung Keberhasilan Program Bunda Literasi di Lingkungan SMA

Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan sumber daya manusia yang berkualitas yang di hasilkan dalam proses pembelajaran, pemerintah Kabupaten Indramayu melakukan terobosan baru dengan mengadakan program bunda literasi di sekolah, yaitu gerakan massal untuk menumbuhkan gemar literasi guna memenuhi kebutuhan akan informasi dan bacaan bagi generasi emas yang dimiliki kota mangga ini.

Langkah nyata di perlukan untuk mulai peka terhadap pendidikan, yaitu melalui literasi seseorang dapat terdidik dengan baik. Untuk menjadi insan dengan literasi informasi yang baik, perlu pembiasaan membaca. jika pembiasaan diri untuk membaca sudah tertanam, tahap selanjutnya adalah terbentuk karakter gemar membaca, dan akhirnya memiliki budaya baca yang baik.

Program bunda literasi digital di SMA

Dengan adanya program bunda literasi digital di Sekolah Menengah Atas, di harapkan dapat mendukung empat keterampilan abad 21, yaitu mampu berpikir kritis, mampu berkomunikasi dengan baik, mampu bekerja sama, dan mampu ciptakan lapangan pekerjaan.

Untuk membangun budaya literasi di SMA, salah satu yang di gerakan adalah kedisiplinan membaca 15 menit sebelum pelajaran di mulai. Peserta didik dapat membaca dari buku maupun bacaan yang di dapat dari alat digital, seperti internet. Peserta didik dapat membuat daftar buku/bacaan yang sudah selesai di baca, dan di lanjutkan dengan berdiskusi tentang buku yang sudah di baca, membuat resensi, dan presentasi.

Peran aktif guru sangat di perlukan sekali untuk mendukung gerakan literasi di sekolah. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mewajibkan guru bidang studi untuk menerapkan metode diskusi dan presentasi pada kegiatan pembelajaran.

Ada 6 aspek metode pembelajaran agar program membaca dapat berhasil

  1. Akses terhadap buku

Peserta didik/siswa perlu membuka diri terhadap akses buku/bacaan, baik melalui perpustakaan, majalah,Koran, komik, maupun bacaan yang di dapat dari internet. Dari sisi sekolh, untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik dalam membaca, perlu di sediakan sarana dan fasilitas, misalnya adanya sudut baca di setiap kelas yang di gunakan untuk memajang dan menyimpan materi bacaan.

  1. Daya tarik buku

Pada dasarnya peserta didik bebas menentukan buku apa saja yang ingin di baca sesuai genre dan minat apa yang ingin siswa baca. Namun guru juga dapat berpartisipasi dalam pemilihan genre buku yang di sediakan di ruang baca.

  1. Lingkungan yang kondsif

Kegiatan membaca agar bisa memahami dengan apa yang di baca, memerlukan suasan atau lingkungan kelas yang menyenangkan, sunyi tidak berisik, dan santai. Lingkungan yang kondusif bisa di bangun dengan memasang poster-poster tentang pentingnya membaca, pengaturan tempat duduk dan atau sudut baca.

  1. Dorongan untuk membaca

Seorang siswa akan lebih bersemangat membaca bila guru dan staf di sekolah dapat menjadi contoh yang baik. Siswa juga dapat meminta bantuan dari pustakawan dan staf pendukung untuk mendapatkan saran dalam pemilihan buku yang tepat.

  1. Waktu tertentu untuk membaca

Perlu ada waktu tertentu yang di tetapkan sebagai waktu membaca, misalnya 15 menit setiap hari sebelum jam pelajaran di mulai, sesuai peraturan menteri pendidikan  dan kebudayaan Nomer 23 Tahun 2015, yang isinya membaca 15 menit setiap hari lebih efektif di banding waktu yang panjang tapi jarang untuk membacanya, misa 1 jam/minggu pd hari tertentu.

  1. Tidak ada tagihan tugas

Membaca mandiri harusnya menjadikegiatan yang menyenangkan. Peserta didik/murid tidak usah merasa terbebani dengan adanya tugas untuk membuat resensi.

Dengan adanya dukungan infrastruktur yang memadai dari sekolah, siswa dapat lebih kreatif mengembangkan kemampuan literasinya. Dapatkan Voucher Tokopedia Gratis di KuponLagi.com.

Comment

News Feed